Belajar Menulis Sama Seperti Belajar Berenang


Saya sering ditanya tentang kiat-kiat menjadi penulis yang baik oleh teman-teman saya yang tertarik dengan dunia tulis-menulis. Jujur saja saya sendiri masih sering kesulitan untuk menuliskan hal-hal yang saya anggap menarik karena sering mood-mood-an untuk menulis. Padahal kunci utama untuk menjadi penulis yang baik adalah menulis, menulis dan menulis. Seperti yang pernah dikatakan Pak Asep Syamsul Romli, salah satu dosen saya saat masih duduk di bangku kuliah, katanya belajar menulis itu seperti belajar berenang, betapa seringnya seseorang membaca buku tentang kiat-kiat berenang ia tetap tidak akan bisa berenang selama tidak menceburkan diri ke kolam renang. Begitu pun dengan menulis, harus terus-menerus dilatih.

Saya sering membaca kisah para penulis di dunia maya, meskipun dalam keadaan stres dan pikiran sedang kacau balau ternyata mereka masih mampu menulis sebanyak 20 halaman dalam satu hari. Wow! Bagi saya, kemampuan mereka sangat hebat, karena saya sendiri belum sanggup seperti itu.

Selain dengan rajin berlatih menulis, ada beberapa kiat-kiat yang harus kita lakukan untuk menjadi penulis yang baik. Berikut ini kiat-kiat untuk jadi penulis yang saya kutip di buku “Panduan Menjadi Penulis, Kiat-kiat Menulis di Media Massa” yang ditulis sendiri oleh dosen saya itu:

1. Rajin Membaca
Rajin membaca adalah modal paling utama untuk menjadi penulis. Dengan membaca, referensi kita bisa semakin banyak dan luas, pemikiran dan ide kita juga menjadi berkembang, sehingga tulisan yang kita buat pun akan lebih berisi. Selain itu, kita juga bisa mempelajari tulisan orang lain dan bagaimana cara ia mengemukakan pandangannya lewat tulisan yang ia buat. “Anda tidak dapat menjadi seorang penulis kecuali bila Anda mengetahui bagaimana seorang penulis membuat tulisan”.

2. Tentukan Bidang Spesialisasi
Kita memang boleh menulis apa saja yang kita inginkan, tapi sebaiknya disesuaikan dengan bidang yang lebih kita minati dan kuasai agar hasil tulisan kita lebih memadai dan berkualitas. Dengan menguasai salah satu bidang, contohnya bidang pendidikan, kita bisa menyumbang pemikiran atau ide melalui tulisan saat masalah-masalah pendidikan sedang hangat-hangatnya dibicarakan.

3. Kreatif dan Berintelijensi Memadai
Kreatif dalam menulis mengacu pada kemampuan si penulis dalam menciptakan sebuah tulisan. Penulis yang kreatif tidak akan kehilangan tema, apa pun yang ia lihat dan yang ada di sekitarnya bisa menjadi tema yang menarik untuk ditulis. Sedangkan intelijensi mengacu pada kemampuan mental, kemampuan belajar dan kemampuan memahami si penulis dalam memusatkan pembahasan masalahnya, mengembangkan ide, mencari keterkaitan antara satu masalah dengan masalah yang lain, dan menemukan gagasan yang baru sesuai dengan topik tulisan yang dibuat.

4. Punya Kemauan

Kemauan atau ambisi dalam menulis bisa menimbulkan semangat untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Banyak yang menyatakan berminat jadi penulis, tapi sedikit sekali yang benar-benar mau menjadi penulis. Tanpa adanya kemauan, seseorang tidak akan tergerak untuk menulis apalagi menulis bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan.

5. Punya Motivasi
Motivasi adalah niat. Motivasi seseorang dalam menulis bisa bermacam-macam: ada yang mengejar kepopuleran, ingin mendapatkan penghasilan atau menjadikan menulis sebagai profesi. Tapi yang lebih baik menulis digunakan sebagai sarana untuk berbagi ilmu dan wawasan, pengalaman dan menyumbangkan pemikiran terhadap suatu masalah yang sedang terjadi. Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Saya sering membaca buku-buku orang yang sukses seperti Steve Job dan Bill Gates. Mereka mau dan membagikan kisah-kisah kesuksesannya dan kiat-kiat meraih kesuksesan melalui sebuah buku. Hanya saja mungkin di antara banyaknyai orang-orang yang sukses dan pintar di dunia ini, sangat sedikit sekali yang membagikan ilmunya dengan cara seperti itu. Padahal ilmu itu justru akan bertambah jika dibagikan kepada orang lain.

6. Punya Kemampuan
Kemampuan dalam menulis meliputi kemampuan mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat, kemampuan berbahasa tulisan, dan kemampuan berbahasa jurnalistik. Namun, jika bakat yang kita punya tidak dilatih maka bakat tersebut bisa lenyap begitu saja. Seperti kata Mario Teguh, bukan bakat yang akan memberhasilkanmu, tapi kesungguhanmu untuk membakati pelajaran dan pekerjaanmu.

7. Luangkan Waktu
Luangkan waktu dan kondisikan diri kita senyaman mungkin agar nyaman untuk menulis, karena menulis pun butuh waktu bahkan bisa menghabiskan waktu kita seharian. Lain halnya dengan wartawan, editor, atau sastrawan yang menjadikan menulis sebagai profesi utamanya. Waktu untuk menulis memang jam kerja mereka.

Mengulangi kata-kata dosen saya yang sudah ditulis di bagian awal, belajar menulis itu seperti belajar berenang, betapa seringnya seseorang membaca buku tentang kiat-kiat berenang ia tetap tidak akan bisa berenang selama tidak menceburkan diri ke kolam renang. Jadi, menulis, menulis, dan menulislah. Semoga bermanfaat (^_^)

(AKLmn, 24 Mei 2012)

Berburu Jodoh


Menikmati malam minggu sambil membaca novel “Friendloveship” karya mbak Ifa Avianty mengingatkan saya pada sahabat-sahabat saya nun jauh di sana. Kisah dalam novel ini terasa begitu nyata, pernah dialami dan mungkin akan dialami suatu saat nanti yaitu tentang jodoh :) . Sambil cekikikan, terharu dan sedih membaca novel ini tiba-tiba terlintas pertanyaan dibenak saya yang hampir sama dengan yang dialami kedua belas bersahabat itu (banyak banget ya), “Kenapa diantara kita belum ada yang merried ya?” hehe… Problem-nya tentu beragam, tapi alasan paling mendasar, dan selalu dijadikan pondasi yang kuat para perempuan single, yah karena belum ketemu jodohnya aja kali. Bisa ditebak, dan tebakan saya pasti 100% benar (ayo taruhan), kalau di malam ini kita mempunyai satu kesamaan, sama-sama tidak melakukan ritual “malam mingguan” seperti orang kebanyakan. Alasannya? We single and very happy (serius nih happy? :D )

Novel ini saya rekomendasikan agar dibaca sahabat-sahabat saya yang sedang single, yang begitu menikmati kesendiriannya, yang menunda-nunda mencari jodoh karena mengejar cita-citanya, yang sedang mencari jodoh tapi tak serius, ataupun yang sedang menanti-nanti jodohnya. Hmmm… Suatu saat kita pun harus berburu jodoh loh… (^_^) (suatu saat yang entah kapan, nah lo?)

Di bawah ini beberapa kutipan dalam novel Friendloveship yang sengaja saya ambil secara acak. Mau tahu alasannya? Ada deh… Hohoho… :

“Kaupikir mencari jodoh semudah mencari persewaan mobil?”

“Berapa kali seseorang membutuhkan proses jatuh cinta sebelum dia yakin kalau dia sudah menemukan soulmate? Ada yang bisa menjawabnya untukku, untuk kami?”

Andaikan saya bisa melihat siapa calon jodoh saya kelak, mungkin saya enggak akan sekacau ini ya?”

“Aduh, maafkan saya, Tuhan. Saya hanya ‘lelah’ menunggu seseorang yang telah lama mengisi hati saya sebenarnya, dan membuat saya asyik dengan angan tak bertepi ini.”

“Buat menyemangati kita supaya lebih serius dalam mencari jodoh.”

“Huaaa…. Sejak kapan masalah perjodohan menjadi jauh enggak lebih penting ketimbang masalah cucian numpuk?”

“Aku memang pernah menduga, bahwa mungkin saja mereka akan memilihkan jodoh untukku, sebab demikianlah yang biasa terjadi di keluarga besar kami.”

“Otakku cepat merunut kesimpulan. Jadi, hari ini aku dikelilingi orang-orang yang lagi pedekate dan di-pedekatein? Apa ini tanda bahwa aku juga harus mulai memerhatikan masalah perjodohan itu?”

“Ya, kepingan puzzle. Sama enggak sih, dengan kepingan hati? Soulmate, jodoh? Bisa enggak itu ditemukan lewat pertolongan teman-teman?”

“Aku memilih untuk enggak pacaran, sama seperti sahabat-sahabatku, bukan karena enggak ada yang mau. Tapi karena aku enggak suka mengikatkan diri pada sebuah hubungan aneh tapi nyata kayak pacaran. Coba pikir, suami bukan, bapak bukan, kenapa ke mana-mana harus lapor sama pacar kita, misalnya? Kenapa kita enggak boleh naksir orang lain lagi, sementara kita juga enggak punya ikatan apapun? Dan kenapa yang pacaran itu kok ya, mau-maunya, melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan suami istri, sementara enggak ada jaminan kalau nantinya dialah sang jodoh? Hiyaaa, rugi bandar! Buat orang sepelit aku, enggak banget ya, memberikan pipiku, misalnya, untuk dicium laki-laki enggak jelas, yang belum tentu menikahiku.”

“Tapi masalahnya, jarang betul laki-laki yang setuju dengan prinsipku ini. Semua yang datang padaku menawarkan bentuk penjajakan yang bernama pacaran itu. Ya aku ogah. Mendingan nge-jomblo daripada memaksakan diri menerima sesuatu yang enggak banget itu.”

“Setahuku, hanya ada satu dari sekian banyak laki-laki yang kukenal, yang juga punya prinsip sama denganku. Namanya Haryadi alias Didi. Dulu dia ketua rohis di SMAku. Haaa? Yes. Dialah yang telah sukses membawa pergi hatiku, sejak dulu hingga kini. Malangnya, aku enggak tahu kabarnya sekarang, hanya sebatas kariernya sebagai diplomat yang entah sedang ada di mana dia. Bisa dong mestinya aku tanya anak-anak TRG atau milis The Smartgirls lainnya? Hahaha, malulah. Nanti saja mungkin, kalau aku sudah demikian kepepet. Lagipula, aku juga ragu apa benar si Didi-Didi ini punya perasaan yang sama denganku? Dia kan mantan ketua rohis, sementara aku mantan ketua persatuan siswa-siswi tukang madol di sekolah. Hihi. 180 derajat berbeda.”

“Memikirkan kemungkinan bahwa Didi sudah menikah, bahkan tak membuatku move on dan ‘mencari’ yang lain. Aku masih di sini, tinggal dengan harapanku, sementara mama dan papa sudah mulai resah memikirkan sulungnya yang tampak santai, dan dua dari lima adikku yang sudah menikah bahkan sudah beranak pinak.”

“Aku ingin menikah, tapi tak juga bisa mencintai orang lain, selain Didi yang keberadaannya antara harapan dan impian itu.”

“Aku yang enggak jelas. Didi bahkan tak tahu perasaanku padanya. Dan aku juga enggak tahu keberadaan Didi sekarang. Menyedihkan.”

“Apakah semudah itu aku bisa membuka hatiku? Tak tahukah dia, bahwa sekian tahun yang lalu, aku juga pernah dikhianati oleh seseorang yang telah menyatakan perasaannya, dan serius ingin menikahiku kelak? Ya Tuhan, mengapa ini harus berulang padaku?”

“Aku hanya berandai-andai, bahwa mungkin saja kami berjodoh sebenarnya. Only in my wildest imagination. Huhuhu.”

(AKLmn, 21 April 2012)

Ucapan Terima Kasih (Dalam Skripsi)


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pemberitaan Kekerasan Antar Umat Beragama Pada Penganut Ahmadiyah (analisis wacana model Van Dijk pada halaman berita utama Harian Umum Republika edisi Februari 2011).

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan pendidikan program Strata 1 (S1) pada Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini berkat bimbingan, bantuan, serta dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1) Ayahanda dan ibunda tercinta, atas dukungannya, kasih sayang, perhatian, doa yang tak henti dan semua pengorbanan yang tak akan terbalaskan sampai kapan pun juga (Maaf masih belum bisa memberikan kebahagiaan yang berarti). Adik-adikku yang selalu membuat penulis tersenyum disaat penulis merasa lelah dalam melangkahkan kaki ini (Semoga bisa menjadi kakak yang terbaik untuk kalian). Juga seluruh keluarga besar, atas bantuan, sokongan dan doanya, special untuk sepupuku Yani yang sering direpotkan, Makasih ya Jeng (^_^)

2) Bapak Drs. Deden Sumpena, M. Ag selaku pembimbing I yang dengan sabar membimbing dan memberikan dukungan kepada penulis sejak awal hingga selesainya skripsi ini. Kebaikan dan pengertiannya merupakan dorongan yang tak terhingga untuk penulis.

3) Bapak H. Imron Rosyidi, M. Si selaku pembimbing II yang memberikan saran dan masukan untuk penulis dalam mengerjakan skripsi ini yang dalam kesibukannya masih dapat meluangkan waktu untuk penulis.

4) Bapak Drs. Dadan Suherdiana, M.Ag selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, terima kasih atas semua bantuannya yang tak terhingga untuk penulis meskipun sering kali penulis merepotkan dalam proses menuju kelulusan penulis.

5) Bapak A.S. Haris Sumadiria, M.Si selaku Ketua Bidang Ilmu Komunikasi Jurnalistik, terima kasih atas bantuan dan dukungannya terhadap penulis.

6) Bapak Asep Saeful Muhtadi selaku Guru Besar yang mengarahkan dan memberikan kesempatan untuk Job Training di Republika.

7) Bapak Encep Abdul Wahab selaku dosen yang kerapkali memberikan dorongan dan semangat kepada penulis. Juga dosen-dosen di Fakultas dakwah dan Komunikasi. Semoga ilmu yang diberikan bisa penulis gunakan untuk kemashlahatan dunia dan akhirat (^_^). Sekaligus terima kasih juga untuk penguji I dan penguji II.

8) Untuk sahabat-sahabat ICM yang tak lekang oleh jarak dan waktu: Silmi dan Fitri yang menjadi tempat berbagi suka dan duka (Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu), Vivi (Motivasi, kasih sayang dan perhatian yang tak terkira darimu Sobat, seperti kita adalah saudara), Indri dan Sovia (kebersamaan yang mudah-mudahan tak singkat), Fadhilah dan Afif (Ada banyak pelajaran hidup yang saya ambil dari kalian, hehe…), Abud, atas perhatian yang terpendam selama bertahun-tahun (Suatu saat kita bisa jadi sahabat yang baik) dan. Semuanya terima kasih atas persahabatan terindah ini.

9) Untuk seseorang yang istimewa dari dulu hingga kini dan masa yang akan datang, Reza Auliarahman, atas obrolan-obrolannya tentang masa depan, nasihat dan pelajaran hidup untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, juga kenangan terindah “Kisah Kasih di Sekolah”. Semuanya akan selalu tersimpan apik di dalam hati dan ingatan. Semoga kita bisa saling bahagia (^_^).

10) Sahabat-sahabat terbaik semasa kuliah, Eka yang keibuan, Indah yang kalem, Acie yang bijak, Citra yang perhatian dan Opik yang gokil, Tak terasa empat tahun bersama dalam suka dan duka. Juga teman-teman satu angkatan Endah, Ayuni, Eka Nur, Ela, Asmarandani, Cela, Agus Triana yang entah menghilang kemana, Duny, Agus Setia Budi, Eka Surya, Ahmad Ramadhan, Ahmad Ariful, Gita Pratiwi & Hilmi atas bantuannya selama di Republika, Gugum, Rara dan angkatan Jurnal 2007. Perjuangan ini belum berakhir kawan. SEMANGAT!.

11) Teman-teman seperjuangan di SUAKA, T’Ely dan T’Lina yang memberikan banyak pengalaman baru. Para sesepuh yang setia dengan SUAKA: Iyan, Godi, K’Miko dan A Ekos. Dan yang berjuang hingga akhir: Fikri yang nyambung kalo diajak diskusi apa aja, Riza yang loyalitasnya sangat tinggi, Firman yang bijak dan kadang kebapaan, Ikhmah yang bawel tapi baik hati, Nia yang kadang keras kepala tapi penuh semangat (Terus berjuang hingga akhir ya!), Ane yang kalem sekaligus bijak, Ulfah, Fauzan, Tri, Tian, Hamdan, Nasrul, Sova, Sopi, Nora, Ratih, Sifat, dan junior-junior yang namanya tidak bisa disebut satu per satu. “SEMANGAT terus, Kawan!!!”. Terutama untuk K’Reza yang telah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran hidup kepada penulis, (Makasih untuk waktunya, mudah-mudahan ada hikmahnya).

12) Untuk teman-teman KKM yang memberikan satu bulan yang berharga untuk penulis: Rini, Iin, Dina, Lina, Yani, Udin, Dani, Agil, Wahyu dan Herman. Ayo kita kumpul lagi!!!

13) Makasih juga untuk Siti, Ika, Nuraini, Pipit, Dede, Mia, Ito, Maya, Alm.Santi, K’Hasan (Nasihat terakhirnya selalu saya ingat) dan nama-nama yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Akhir kata penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan jasa-jasa mereka. Penulis berharap skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi almamater tercinta dan kontribusi untuk dunia jurnalis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung,

Agustus 2011 Penulis

Kenangan Manis Teman Lamaku


Tiba-tiba aku terbangun karena mimpi. Kucopot kacamata, yang biasanya memang tetap aku pakai meski sedang tidur. Aku lalu menuju ke toilet hanya sekadar mencuci muka, sayangnya malam ini aku sedang libur jadi libur juga jadwal “nge-date”-ku dengan Sang Pencipta.

Rumah begitu sepi. Televisi menyala tidak ada yang menonton. Tapi kubiarkan menyala, karena aku tak terlalu suka kesunyian. Kesunyian hanya akan membuat pikiranku aneh-aneh saat mendengar bunyi-bunyian. Langkah kaki kucing saja bisa aku tafsirkan macam-macam. Bahkan bagiku, suara mengeongnya akan terdengar seperti garung dalam kesunyian.

Mimpi bertemu teman lama membuat mataku terus terjaga di malam ini. Entah bagaimana kabar teman lamaku itu. Aku jadi tiba-tiba khawatir. Apalagi dalam mimpi itu teman lamaku bercerita dengan wajah yang muram. Ia terlihat begitu sedih. Aku mencoba mengingat-ingat lagi percakapan antara aku dan teman lamaku itu.

“Masih menunggu jawaban?” tanyaku

“Iya, Da,” jawabnya singkat.

“Entahlah Da, kenapa dia masih diam aja ga jawab apa-apa. Padahal aku udah ngasih beberapa barang yang kupikir bisa mengingatkan dia tentang kenangan kita,” kata temanku mulai bercerita.

“Ini salah satunya,” teman lamaku memperlihatkan jam weker warna putih berbentuk kotak.

“Aku beli ini dua. Satunya aku simpan, dan satunya lagi aku kasih dia.”

Aku terus setia mendengarkan.

“Ada satu kenangan manis yang ga bisa aku lupa, Da. Waktu itu aku sakit, terus dia ngasih Tolak Angin….”

Waktu aku sakit, Piyu memberikan aku Tolak Angin Sido Muncul. Dengan saksama aku mendengarkan iklan tolak angin ini. Kok hampir mirip dengan kata-kata teman lamaku?

Lagi-lagi… Meskipun tertidur, aku kadang menangkap suara yang ada di sekeliling, lalu mentransformasikannya ke dalam mimpi. Pantas ada kata-kata dari teman lamaku yang terdengar aneh. Ternyata kata-kata dalam iklan ini merasuk ke dalam mimpi. Apalagi suara volume kecil televisi bisa terdengar lebih keras di kesunyian. Aku menggaruk kepala yang tak gatal.

Lanjut lagi tentang cerita teman lamaku itu…

“Kenangannya simple sih Da, tapi berkesan buat aku sampai sekarang. Gimana menurut kamu?” tanya teman lamaku itu.

Kenangan memang sesuatu yang sederhana untuk diingat dan disimpan dalam hati. Sekalipun “dia”, orang yang teman lamaku bicarakan itu menganggap kenangan mereka tak berarti apa-apa. Tapi bagi teman lamaku justru kenangan itu menjadi sesuatu hal terindah dan hal termanis yang tidak bisa ia lupakan sampai kapan pun.

Aku berpikir sejenak. Mencoba mencari klimaks dalam kisah teman lamaku itu.

“Pernah terpikir ga kalo kediaman dia adalah jawabannya. Jadi ngapain juga kamu harus menunggu sampai saat ini, karena dia udah ngejawab dengan kediamannya itu,” kataku pada akhirnya.

Bukankah dalam novel saja banyak epilog yang tidak berakhir happy ending. Para pembaca pun harus berbesar hati jika epilog novel yang dibacanya tidak sesuai dengan harapannya. Toh memang tergantung si penulis novel.

Teman lamaku terdiam, wajahnya semakin sedih. “Aku ga akan maafin dia, Da,” katanya setelah beberapa lama.

Aku lalu terbangun, tersentak mendengar kata-kata teman lamaku itu. Sudah lama memang aku tak mendengar kabarnya. Hanya beberapa kali kami saling sapa di facebook. Setiap bertemu, ia memang kerap kali menceritakan tentang “dia” yang menurutnya istimewa. Bahkan tetap istimewa meskipun menurut teman lamaku, “dia” yang dianggapnya istimewa itu telah mempunyai orang lain yang menurut “dia” lebih istimewa.

Cinta ya cinta, jodoh ya jodoh. Sering keduanya tidak berjalan beriringan atau lebih tepatnya kita tidak berjodoh dengan seseorang yang benar-benar kita cintai. Tapi saat hal itu terjadi, yang terbaik yang mungkin bisa dilakukan adalah ikhlas. Skenario dari-Nya sesungguhnya lebih indah meskipun terkadang tidak sesuai dengan keinginan hati kita.

Aku tahu temanku itu bukan tipe wanita yang irrasional karena cinta. Cintanya pada “dia” bukanlah cinta buta. Ia hanya menunggu kepastian takdir dari Sang Pemilik Hati. Jadi kata-kata terakhir dari teman lamaku dalam mimpi sangat mustahil untuk diucapkannya. Tapi mimpi singkat itu masih terasa begitu nyata.

Mataku masih terjaga, televisi yang tadi kubiarkan menyala akhirnya kumatikan. Kuganti dengan memutar lagu Mimpi milik Anggun C Sasmi di netbook, karena aku benar-benar tidak terlalu suka kesunyian. Kesunyian di malam hari hanya akan membuat mataku terus terjaga.

“Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi. Setelah aku sadar diri kau tlah jauh pergi, tinggalkan mimpi yang tiada bertepi. Kini hanya rasa rindu merasuk di dada, serasa sukma melayang pergi, bawa arus kasih membara.”

Biasanya jika mengingat kenangan, aku suka memutar lagu Kemesraan milik Iwan Fals. Entah kenapa malam ini begitu berbeda. Kupikir lagu ini bisa mewakili perasaan teman lamaku saat ini. Mungkin ada juga perasaan-perasaan lain yang ikut terwakili. Siapa? Tak penting untuk dibahas.

Aku semakin kepikiran teman lamaku itu. Kabar terakhir yang aku dengar tentangnya dari teman-temanku dan temannya yang lain, ia kini sedang serius mengejar mimpi dan cita-citanya. Meskipun sudah lama tak mendengar kabarnya lagi, tapi aku yakin kemana pun ia melangkah, ia akan tetap membawa kenangan manisnya.

Seorang laki-laki muncul dalam ingatan. Aku pun punya kenangan manis, yang sampai saat ini tidak bisa kulupakan. Kenangan “kisah kasih di sekolah”.

Malam semakin larut. Kulihat jam di dinding, waktu sebentar lagi menjadi pagi. Baterai netbook pun tinggal 7%. Kubiarkan lagu Anggun C Sasmi mengalun di sepanjang malam. Biasanya aku akan tertidur begitu saja. Dan netbook pun akan mati dengan sendirinya.

Cinta sejati memang ada, dan itu milik-Mu, Sang Pemilik Hati. Tapi apakah cinta sejati diantara hamba-hamba-Mu benar-benar ada Tuhan?

(AKLmn, 30 Januari 2012)

• Garung : tangisan keras-keras (karena kesakitan); raungan