TERUNTUK SAHABAT


PUISI-PUISI

Sahabatku, waktu sedang berbaik hati pagi itu.

Mempertemukan kita dalam suasana akrab penuh rindu.

Untuk berlama-lama menikmati kebersamaan tanpa jemu.

Membicarakan tentang masa kini, masa depan, dan masa lalu.

Dan, saat-saat yang begitu cepat berlalu.

Sahabatku, selalu mengasyikan bercengkrama dengan kalian.

Kita menertawakan kebodohan, kesedihan, dan kekonyolan.

Juga memori yang selalu terhubungkan dalam hati dan ingatan.

Hingga tentang cinta-cinta yang pergi namun tak terlupakan.

Dan, akhirnya kita pun terbuai pada masa yang penuh kenangan.

Sahabatku, esok hari kita masih akan seperti itu.

Mengulang cerita lama dan berbagi cerita baru.

Masih dengan canda, tawa, dan celotehan kita yang selugu dahulu.

Bersama persahabatan yang tak kedaluwarsa oleh jarak dan waktu.

Dan, kejutan-kejutan dari Tuhan yang belum kita tahu.

(AKLmn, Margonda, Depok, Oktober 2015)

Lihat pos aslinya

TERUNTUK SAHABAT


Sahabatku, waktu sedang berbaik hati pagi itu.

Mempertemukan kita dalam suasana akrab penuh rindu.

Untuk berlama-lama menikmati kebersamaan tanpa jemu.

Membicarakan tentang masa kini, masa depan, dan masa lalu.

Dan, saat-saat yang begitu cepat berlalu.

Sahabatku, selalu mengasyikan bercengkrama dengan kalian.

Kita menertawakan kebodohan, kesedihan, dan kekonyolan.

Juga memori yang selalu terhubungkan dalam hati dan ingatan.

Hingga tentang cinta-cinta yang pergi namun tak terlupakan.

Dan, akhirnya kita pun terbuai pada masa yang penuh kenangan.

Sahabatku, esok hari kita masih akan seperti itu.

Mengulang cerita lama dan berbagi cerita baru.

Masih dengan canda, tawa, dan celotehan kita yang selugu dahulu.

Bersama persahabatan yang tak kedaluwarsa oleh jarak dan waktu.

Dan, kejutan-kejutan dari Tuhan yang belum kita tahu.

(AKLmn, Margonda, Depok, Oktober 2015)

Terima Kasih Telah Mencintaiku


Kamu, tiba-tiba menyapa sepiku di malam minggu

“Aku akan memulai perjalanan baru,” katamu

Lalu, senyummu sirna bersama kalimat itu

 

“Selamat. Akhirnya,” ucapku

Menahan sendu karena masih tersesat dalam lorong yang berliku

Sambil menebak-nebak perempuan seperti apa yang bersamamu

 

Kamu melagu, membuatku terjaga di malam itu

“Tapi, aku masih ragu,” katamu lagi, pilu

Lalu, suaramu pun hilang bersama detakan waktu

 

“Kenapa?” tanyaku, kelu

Terbayang-bayang kesedihan dari wajahmu

Juga, hatimu yang merindu dan ingin bertemu

 

Kamu pun kembali menyerah pada kenangan dahulu

“Karena hatiku masih di sini,” jawabmu

Lalu, muram menyambut memori yang menjelma seperti candu

 

Jangan lagi menungguku lebih lama, bisik hatiku

Menungguku yang kini masih terlalu ragu

Dan, menungguku yang bisa saja berubah perasaan padamu

 

“Terima kasih telah mencintaiku tanpa ragu.”

Rangkaian kata manis itu lagi yang terucap agar kau tak keliru

Karena, mungkin takkan pernah kutemukan alasan menahanmu di sisiku

 

*Ditulis saat mendengar kabar bahagia dari kamu yang lain di sana, membuat perasaan ikut bahagia sekaligus sedih*

(AKLmn, Desember 2014)

Tak Ada Lagi Cerita


Sungguh, aku telah berdamai dengan masa lalu

Menyimpan apik potongan-potongan kenangan

Mengakhiri semua luka dan kecewa dengan senyuman

Tanpa ada lagi yang merasa saling disakiti dan tersakiti

Atau menuntut untuk saling dimengerti

 

Maka, kunikmati indahnya kesendirian tanpa kebersamaan

Berjalan-jalan menyusuri jalanan kota dengan hati riang

Mengalirkan candaan dan tawa hingga senja datang

Tak sedikit pun kuberikan jeda untuk kesedihan

Atau sekadar berangan-angan

 

Lalu, kamu hadir kembali di ujung jalan sana

Membuatku ingin kembali bercerita dan mesra

Tentang kita yang semakin beranjak dewasa

Tentang mimpi-mimpi yang sudah ada di depan mata

Dan, tentang masa depan penuh asa

 

Tapi, apa artinya pertemuan yang tercipta

Ketika kita tak lagi menatap langit yang sama

Akhirnya kuputuskan untuk tak lagi bertanya

Pada angin yang berhenti bercerita

Juga, pada hujan yang tak lagi mesra

 

Karena, kamu pun mungkin akan pergi lagi

Dan, aku mungkin akan menyakiti lagi

*Ditulis saat memandangi hujan di kampus*

(AKLmn, Desember 2014)

Diam Saja


Aku ragu melangkah maju

Namun, enggan juga berbalik pergi

Diam, seperti yang diisyaratkan alam

Menggerunyam, menyiapkan prolog tak formal

 

“A… Aku butuh oksigen, irama jantungku tak beraturan,” pintaku pada alam

“Diam saja,” bisik alam tanpa simpati

Tak peduli tubuhku sedingin es

Dan nafasku yang bak kereta ekspres

 

“A… Aku butuh donor darah, darahku habis diisap vampir,” pintaku lagi

“Diam saja,” bisiknya lagi tanpa empati

Tak peduli aku yang frustasi

Dan wajahku yang sudah pucat pasi

 

Aku pun termangu diselimuti mendung

Memandangi yang tampak punggung

Ditemani kenangan-kenangan yang acak

Yang dipaksa menjaga jarak

 

*Ditulis setelah pulang dari toko buku*

 

(AKLmn, November 2014)

Memandang Hujan


Huruf-huruf seperti bisu
Tanpa percakapan
Sementara, bayangan hadir dalam kewarasan
Membentuk siluet wajah
Menyapa ingatan
Hanya angin yang membisikkan cerita
Dan hujan yang membangkitkan kenangan

Akulah yang merindu itu
Setia memandang hujan sepanjang waktu
Hingga berlalunya rindu
Yang tak kusampaikan padamu

(AKLmn, 01 Agustus 2013)